Kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan ide baru atau menghubungkan ide-ide yang sudah ada menjadi sebuah ide baru yang berbeda. Sedangkan inovasi adalah kemampuan untuk membawa ide kreatif tersebut ke dalam dunia nyata. Menghasilkan ide kreatif pada umumnya bersifat individual, namun untuk mengubah ide kreatif tersebut menjadi sebuah inovasi, diperlukan kerja tim.

Berdasarkan hasil pengamatan belasan tahun di dunia kerja, saya menemukan fenomena kurang berkembangnya kreativitas dan inovasi di berbagai organisasi. Banyak tim hanya menjalankan pekerjaan sebagaimana biasanya. Aktivitas harian dan rutinitas yang sama dilakukan tanpa ada kreasi ide baru. Perubahan baru terjadi ketika ada orang baru, yang umumnya adalah pengambil keputusan, yang menginginkan adanya perubahan.

Menariknya, bukan karena di tempat-tempat itu tidak ada orang yang kreatif. Mereka berhasil masuk dunia profesional justru karena telah melalui serangkaian tes rekrutmen untuk menyaring keterampilan, keahlian dan potensi. Artinya, secara intelektual mereka memiliki kemampuan di atas rata-rata.

Lalu mengapa kreativitas tidak berkembang di tempat kerja? Hal-hal berikut ini bisa menjadi penyebabnya.

Kritik terlalu dini terhadap ide yang dipandang tidak umum atau tidak masuk akal

Semua inovasi yang out of the box berawal dari ide yang kelihatannya aneh. Ide yang tidak biasa memang mengundang pro dan kontra. Sayangnya, karena pro dan kontra berbenturan pada saat bersamaan, ide itu akhirnya layu sebelum berkembang. Layunya ide ini sering terjadi di ruang meeting, dimana ketika ada seseorang menyampaikan ide, orang yang lainnya melakukan evaluasi atas ide-ide tersebut. Akibatnya satu ide dibahas berjam-jam tak tentu arah. Setelah itu, orang yang mempunyai ide pun enggan menyampaikan pemikirannya lagi. Karena itulah akhirnya kreativitas pada level individu terhenti. Apalagi ketika evaluatornya adalah atasan sendiri yang cenderung memaksakan pendapat.

Untuk menghindari hal seperti ini, kita bisa menggunakan model berfikir Disney dalam menumbuhkan kreativitas. Disney, membagi cara berfikir menjadi tiga bagian yaitu: Dreamer, Critics dan Realistics. Uniknya, ketiga cara berfikir tersebut tidak boleh dijalankan secara bersamaan, melainkan melalui proses bertahap atau paralel.

Dreamer adalah tahap berfikir untuk menghasilkan ide. Pada tahap ini yang boleh dilakukan hanyalah memikirkan ide dan bermimpi tanpa sedikitpun melakukan evaluasi atas ide-ide tersebut.

Critics adalah tahap evaluasi. Pada tahap ini, ide-ide yang dihasilkan pada tahap Dream mulai dievaluasi, dikritik dan dipertanyakan.

Realistics adalah tahap untuk mencari jawaban atas semua pertanyaan yang muncul pada tahap Critics.

Dengan menjalankan ketiga cara berfikir tersebut secara paralel, maka tidak ada peluang perbedaan pendapat. Karena setiap orang menggunakan satu cara berfikir yang sama saat berdiskusi atau brainstorming. Dengan cara seperti ini pula orang akan terpacu menghasilkan ide tanpa takut dievaluasi. Dengan demikian kreativitas akan berkembang.

Suasana kantor yang kaku dan tidak mendukung kreativitas

Ruang dan waktu mempunyai peran cukup signifikan untuk mempengaruhi kualitas berfikir seseorang dalam menghasilkan ide. Otak cenderung lebih efektif dalam menghasilkan ide kreatif ketika dalam kondisi santai, fun dan bahagia. Kondisi ruangan yang dibentuk sedemikian rupa untuk membuat otak merasa rileks dan fun berpotensi untuk meningkatkan kreativitas dalam berfikir dan menghasilkan ide-ide baru. Ruang kerja di Google atau Zappos adalah contoh menarik yang banyak dijadikan model ketika membahas hal ini.

Di beberapa klien kami sendiri, kami juga mengamati hal ini. Untuk mendorong inovasi dan kreativitas berfikir para stafnya, salah satu hal yang mereka lakukan adalah mendesain ulang ruang kerja atau area-area tertentu di kantor menjadi tempat yang bisa memberikan suasana rileks dan fun. Hasilnya, inovasi produk, program atau inisiatif-inisiatif baru tumbuh berkembang.  Dampak berikutnya adalah peningkatan kinerja, engagement bahkan pengaruh positif pada kinerja keuangan perusahaan.

SOP dan prosedur sering dijadikan alasan penghambat kreativitas

Banyak orang yang mengeluh tidak bisa kreatif karena SOP yang terlalu ketat dijalankan oleh perusahannya. Berapa banyak saya mendengar seseorang mengatakan “Bagaimana bisa kreatif, kalau aturannya ketat benget?” atau “Nggak mungkin kreatif, karena sudah ada SOP”.

Mereka yang mengatakan hal-hal seperti itu sepertinya belum memahami apa itu kreativitas. Kreatif memang seharusnya dibatasi oleh aturan, norma ataupun prosedur. Bila kreativitas tidak dibatasi namanya bukan kreatif lagi. Karena orang bisa melakukan apapun tanpa adanya batasan dan bahkan bisa melakukan sesuatu yang liar, merusak dan tidak bermanfaat. Bila semua orang bisa melakukan apapun, lalu dimana letak keistimewaan idenya?

Ide kreatif mengenai seni yang tidak dibatasi norma bisa menghasilkan karya yang asusila yang akhirnya bisa merusak masyarakat. Batasan dan aturan memberikan arahan agar ide baru yang dihasilkan tetap pada koridor manfaat.

Kreatif bukan hanya sekedar menghasilkan ide baru dan berbeda. Ide baru tersebut harus bermanfaat. Kreatif juga berarti memiliki banyak opsi dan alternatif dalam batasan. Batasan itu bisa aturan, prosedur, norma atau adat istiadat.

Batasan itu bisa juga berarti keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Jika ada orang yang mengatakan “Bagaimana bisa kreatif kalau fasilitasnya terbatas?” adalah mereka yang tidak paham apa itu kreatif.

Yang menjadi penghambat ide pada dasarnya bukan aturannya. Akan tetapi ketakutan untuk melanggar aturan. Yang menjadi penghambat kreativitas bukanlah keterbatasan sumber daya tapi keengganan untuk melakukan sesuatu yang extra miles.

Untuk mengantisipasi terhambatnya kreativitas karena ketakutan melanggar aturan, para staf perlu diberikan pemahaman mengenai landasan berfikir mengapa aturan itu ada. Setelah itu mereka juga perlu diajarkan cara-cara memitigasi risiko seandainya memang perlu dilakukan hal yang tidak sesuai aturan. Dengan demikian mereka tidak hanya melakukan sesuatu apa adanya sesuai aturan dan menghindari hal-hal yang tidak sesuai aturan. Tapi bisa mempunyai lebih banyak alternatif ketika berhadapan dengan hal-hal yang tidak sesuai aturan.

Kurangnya pelatihan terkait cara berfikir kreatif

Banyak yang beranggapan bahwa jika seseorang diberikan pengetahuan dan keterampilan yang cukup dalam hal teknis maka secara otomatis dia akan mempunyai kemampuan berfikir kreatif pada hal yang dikerjakan. Ada pula yang mempunyai anggapan bahwa kreativitas akan terbentuk dengan sendirinya jika seseorang mendapatkan jam terbang atau pengalaman yang cukup.

Pada kenyataannya kreativitas bukan hanya perpaduan antara pengalaman dan pengetahuan. Ada beberapa komponen lain yang juga penting yaitu sikap mental dan metode. Seseorang akan menjadi lebih kreatif jika memiliki motivasi untuk berfikir berbeda dan memahami metode-metode yang tepat untuk menghasilkan ide yang berbeda.

Beberapa perusahaan sepertinya sudah memahami hal ini. Oleh karena itu mereka memberikan pelatihan cara berfikir seperti problem solving, decision making dan creative thinking. Namun sayangnya, metode pelatihan yang digunakan kadang kala belum tepat. Beberapa training creative thinking atau problem solving yang berkembang saat ini banyak menggunakan aktivitas seperti membuat kerajinan tangan, menggambar atau pentas seni sebagai sarana menumbuhkan kreativitas stafnya. Pernahkah Anda sendiri mempertanyakan hal ini?

Para staf perlu diberikan pengetahuan dan skill mengenai cara-cara berfikir kreatif dalam hal bisnis bukan hanya sekedar berfikir kreatif. Belajar kreatif dengan cara membuat kerajinan tangan atau pentas seni tidak akan membantu banyak dalam meningkatkan kemampuan berfikir kreatif saat menjalankan bisnis. Saat ini sudah berkembang banyak metode gamification yang dapat digunakan untuk melatih kemampuan problem solving dan berfikir kreatif untuk mengatasi masalah bisnis. CAPSIM Business Simulation adalah salah satunya.

Bila hal-hal yang menghambat kreativitas bisa diatasi di lingkungan kerja, tentu daya cipta setiap orang di dalamnya akan meningkat. Jika daya cipta meningkat maka peluang untuk lahir inovasi juga menjadi lebih besar. Karena kreativitas adalah pintu gerbang terciptanya inovasi. Dan untuk menghasilkan inovasi perlu kerja tim. Dan semua bisa diawali dari bersama-sama menciptakan lingkungan kerja yang menunjang kreativitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *